Falsafah Hati, Berbagai Pengertian tentang Hati

Pengertian Hati

Semakin banyak orang di Indonesia mencari pengalaman ketuhanan yang lebih dalam dengan Allah SWT dari yang selama ini kita bayangkan. Jutaan orang mulai memahami Allah SWT menginginkan kita menyelami iman kita melalui hati kita, karena di sanalah letak dasar “diri” kita.

Bagaimana caranya agar Allah SWT dapat mengendalikan hati kita saat kepala kita sibuk ingin ambil kendali? Untuk memulainya, kita harus memperoleh jawaban tentang apa itu hati. Hati sebenarnya adalah kata yang menggambarkan empat aspek dalam hidup kita yang saling terkait:

1) Jantung atau Hati. Baik jantung maupun hati dalam artian biologis, keduanya berperan vital dalam mengatur tubuh kita. Sevital itu pulalah Islam mengatur tubuh dan kehidupan kita. Secara spiritual, mematuhi aturan-aturan Islam, dan terutama lima pokok rukun Islam, menjadikan tubuh dan kehidupan fisik kita sesuai dengan perintah Allah, dan membantu kita mendapatkan kesehatan fisik dan vitalitas.

Belum lama ini, dalam perjalanan saya ke Lombok dan Sumbawa dengan Aa Gym, saya terkesan dengan energi yang ada pada Aa Gym. Jadwalnya sedemikian padat, saya hampir tidak percaya – saya sendiri seorang pria sehat dengan energi yang lumayan. Tapi, ketika saat itu saya bandingkan dengan Aa Gym saya akui masih belum seberapa. Energi yang begitu besar yang ia miliki berasal dari sumber ilahiyah yang saya masih terus pelajari dari beliau. Ketika kita alami iman dari hati, kita juga mampu mendapat akses ke cadangan energi ini.

2) Hati secara emosi. Mungkin kita semua pernah mengalami dampak dari membiarkan emosi kita mengendalikan kita dan bukannya Allah yang mengendalikan kita. Siklusnya selalu sama: Pertama, kita mengalami stress; kedua, kita coba menghilangkannya; ketiga, kita serang sumber stress yang kita tahu, tapi itu hanya menambah stress. contohnya, jika atasan saya marah karena dia kira saya merugikan perusahaan, ini akan menimbulkan stress dalam hidup saya. Saya segera anggap atasan saya adalah sumber stress, walau nyatanya stress itu adalah emosi dalam diri saya. Jadi, bukannya menghadapi masalahnya secara internal melalui shalat, saya serang atasan saya. Karena saya tidak benar-benar bisa menyerang dia langsung, saya serang secaraa tidak langsung dengan memfitnahnya, menjelek-jelekkannya, dan menyalahkan dia atas kesalahan saya sendiri. Hati yang dikendalikan oleh Allah memulai dengan menyadari bahwa pertamaa saya harus mengendalikan emosi saya sendiri atas suatu hal – apakah itu adalah kesalahan saya atau bukan, jadi saya menganggapinya dengan cara yang mencerminkan keinginan dan kehendak Allah.

Hati itu Nurani

3) Hati sebagai nurani. Allah telah membuat dalam diri kita indicator utama atas benar dan salah. Ini adalah naluri kita untuk melakukan apa yang sepatutnya bagi kita. Kita harus menyadari bahwa ini bukanlah sesuatu yang bersifat spiritual, melainkan sesuatu yang manusiawi. Hanya satu masalahnya: begitu kita mulai belajar saat kita kanak-kanak, kita mulai belajar bagaimana orang-orang sekeliling kita tidak mengindahkan nurani mereka sendiri. Kita mempelajari ini dengan cepat karena tidak menghiraukan nurani adalah bentuk spiritual dari mencari enaknya saja. Begitu kita telah terbiasa tidak menghiraukan nurani kita, kita mungkin akan tidak dapat lagi menangkap peringatan yang disampaikannya. Untuk keadaan ini, hanya ada satu solusi – biarkan Allah membangun kembali nurani kita melalui hidayah-Nya, dan itu berarti kita harus mampu mendengar hidayah Allah.

4) Hati sebagai indra Ilahiyah. Kita punya telinga, mata, hidung, mulut, kulit dan lidah. Semua indra ini memungkinkan kita mengenali dunia. “Hati” adalah jenis indra lain yang tidak memiliki kedudukan dalam benak atau tubuh kita karena ia mendengar firman Allah. Ini adalah indra yang ada dalam Ruh kita, tapi hanya dapat kita alami ketika Ruh berserah kepada Allah – ketika Ruh menjadi Islam. Inilah perang dalam diri kita, dan ketika indra spiritual hati kita mulai kalah, kita tidak mampu mendengar firman Allah. Untuk dapat memungkinkan indra spiritual ini mendengar Allah, kita harus mengguyur benak dan jiwa kita dengan kekuatan pencipataan dari Allah. Singkatnya, kita harus menempatkan firman Allah dalam telinga dan mulut dan pikiran dan mimpi kita sehingga memenuhi hidup kita. Maka, ketika bunyi-bunyi lain tersingkirkan oleh firman Allah, hati kita dapat mulai mendengar.

Tidak peduli dimanapun kita dalam mengarungi iman kita, ketika kita menemukan bahwa firman Allah merupakan kunci dari awal suatu proses untuk membiarkan Allah mengendalikan hidup kita, kita akan tahu satu hal: Kita perlu Kitabullah al-Qur’an setiap hari, dari hari ke hari. Bagi mereka yang sibuk, ini merupakan tantangan yang sepintas mustahil. Waktu. Energi yang terkuras. Kesulitan dengan bahasa Arab. Semua ini menghalangi membaca al-Qur’an. Tapi, jika kita berkomitmen untuk membaca, memahami dan mengalami hidayah Allah dalam hidup kita setiap hari, Allah akan memperbaharui hati kita dan memulihkan jiwa kita.

Jika anda tahu anda perlu memperbaharui hati anda dan menemukan kembali indra spiritual anda di bulan Ramadhan yang berkah ini, mulailah dengan membuat komitmen untuk membaca Al-Quran setiap hari.

Leave a Reply

*