Kampung Burung Blekok di Bandung, Seperti Di Luar Negeri

Selamat datang di situs kami yang mengulas berbagai macam informasi terkait dengan hewan peliharaan dan cara perawatan yang mungkin Anda butuhkan, Kampung Burung Blekok di Bandung, Seperti Di Luar Negeri.

Burung Kuntul / Blekok – Sore mulai berganti malam, Mak Empong (72) duduk santai di atas kursi kayu dengan bersandar di pohon sambil menyaksikan ratusan burung kuntul (Bubulcus Ibis) dan blekok (Ardeola Speciosa) kembali ke sangkarnya.

Burung itu kembali ke rumah yang terletak di Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat. Pohon bambu dan selong itulah yang menjadi tempat istirahat sekaligus bertelur.

Mak Empong hampir setiap sore duduk di kursi kayu sambil menyaksikan kawanan burung-burung itu kembali membawa kicauan yang nyaring, melepas lelah setelah bekerja mencari makanan di sawah seharian.

Burung kuntul dan blekok tersebut sudah menghuni pohon bambu itu hampir selama 20 tahun. Burung-burung itu terus bertelur dan menjadi banyak,” kata Mak Empong.

Coba tengok Kampung Blekok di Bandung, disana ada Burung kuntul berbulu putih dengan paruh hitam dan blekok berbulu putih kemerahan yang mempunyai ukuran badan lebih kecil dibanding burung kuntul.

Habitat burung-burung tersebut dijaga berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No. 11 Tahun 2005 yang berisi Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan Kota Bandung, Dilarang merusak tempat tinggal, membunuh dan memperjual belikan kedua jenis burung ini, jika dilanggar akan dikenakan dendaRp. 5 juta ditambah sanksi administrasi lainnya.

Kampung Rancabayawak

Jika Anda berkunjung ke Kampung Rancabayawak yang terletak diperbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, cukup membutuhkan waktu 1 jam menuju akses ke jalan kampung ini.

Nah, kampung tersebut juga terdapat pelang penanda kampung bertulis Kampung ‘Kreatif Blekok Rancabayawak RW 02’ yang dipoles biru, tapi sekarang sudah berganti ‘Kampung Kreatif Rancabayawak RW 02’ bercat hitam.

Sudah jadi hal biasa di kampung ini, seperti pengendara sepeda motor atau pejalan kaki yang lewat sering kena kotoran burung tersebut. “Sudah biasa itu, kalau warga yang lewat kena kotoran burung. Jangankan kotoran, telurnya aja kerap berjatuhan dan pecah di atas tanah, jadi ga aneh kalau bau anyir,” ujarnya.

Menurut Mak Empong, warga disana melarang siapapun memburu burung-burung tersebut. “Dilarang menangkap burung ini, agar populasinya tetap banyak apalagi menembaknya. Pasti sebelum diburu warga sudah melarangnya,” ucap Mak Empong.

Kata Asep (56), petani padi di daerah Sapan, Kabupaten Bandung, biasanya pasca musim panen, populasi burung blekok dan kuntul meningkat.

Sebab pasca musim panen, burung-burung tersebut mencari makanan di Saoan, Kecamatan Bojongsoang hingga Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung.

“Suka kesini cari makannya, sudah sejak dulu. Apalagi lahan pesawahan yang dekat sarangnya sudah beralih fungsi sehingga burung-burung itu harus mencari makan ke sawah yang lebih jauh,” ujar Asep.

Kampung Burung Blekok di Bandung, Seperti Di Luar Negeri | Lia Adore | 4.5